Pengikut

Sabtu, 12 Maret 2011

Muslim itu Bersaudara

Anas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda, "Setiap hamba yang datang mengunjungi saudaranya karena Allah, niscaya ada malaikat dari langit yang menyerunya, "sungguh baik dan terpuji kamu, bagimu surga. Atau Allah berfirman di kerajaan Arasy-Nya, Hambaku telah berkunjung dan memuliakan saudaranya karena Aku. Allah tidak rida memberikan pahala kepadanya kalau bukan berupa surga
(HR al-Bazzar dan Abu Ya'la)
----  "Barang siapa menjenguk orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, ada malaikat yang menyerunya, "Bagus sekali apa yang kamu lakukan, bagus sekali usahamu dan semoga kamu akan mendiami sebuah tempat di surga," (HR Ibnu Majah, at-Tirmidzi)
----- Anas menceritakan, Nabi saw bersabda," Tidaklah dua orang muslim yang bertemu, maka salah seorang di antaranya memegang tangan saudaranya (berjabatan tangan), melainkan Allah swt berhak mendengar doa mereka berdua, dan tangan mereka(yang bersalaman) belum akan lepas, hingga mereka berdua mendapatkan ampunan. (HR Ahmad)
------------"Siapa yang ingin dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menjalin silaturahmi," (HR Muttafaq Ilaihi)
_______"Rahmat Allah tidak akan diberiakan kepada orang-orang yang memutuskan tali silaturahim,"
(HR Baihaqi)

Minggu, 06 Maret 2011

Iblis Tidak Pernah Mau Rugi

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dengan Iblis

Abdullah bin Ummi Maktum ra. adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw. Ia seorang yang buta, dan yang menjadi sebab diturunkannya surat surat "Abasa.
Suatu ketika, Abdullah datang kepada Rasulullah saw. setelah sebelumnya ia ditinggalkan oleh orang yang menuntunnya berjalan untuk menunaikan sholat berjama'ah di masjid. Ia lalu menemui Rasulullah, karena ingin meminta izin kepada beliau untuk tidak hadir di dalam sholat shubuh bersama beliau.
Maka Rasulullah saw. bertanya, " Apakah engkau mendengarkan suara azan?".  Abdullah pun menjawab, "Ya, aku mendengarnya.".  Lalu Beliau pun berkata, "Kalau begitu aku tidak melihat adanya rukhsah (keringanan) pada dirimu untuk tidak berjamaah di masjid."


Pada waktu shubuh berikutnya, Abdullah bin Ummi Maktum hendak pergi ke masjid untuk menunaikan sholat berjamaah. Tiba-tiba di perjalanan kakinya tersandung batu dan ia terjatuh hingga kepalanya luka. Darah segarpun mengalir di wajahnya.
Ia pun bangkit dan mengusap darah yang bercucuran pada wajahnya, agar bisa melanjutkan perjalanan ke masjid. Tiba-tiba ia merasa dihampiri oleh seorang lelaki yang tidak ia kenal sebelumnya dan langsung menyapanya dengan bertanya, "Hendak kemanakah engkau, wahai paman?".   Abdullah bin Ummi Maktum menjawab, "Aku hendak pergi ke masjid."
Sang lelaki berkata '"aku akan mengantarmu pergi ke masjid dan sekaligus mengantarmu pulang ke rumah." Lalu lelaki itupun memegang erat tangan sang sahabat dan menuntunnya pergi ke masjid, begitu pun ketika pulang. Begitulah peristiwa itu berlangsung beberapa hari.
Abdullah merasa senang dengan bantuan si lelaki itu dan ia pun menanyakan nama dan ikhwal lelaki tersebut

Lelaki itu berkata, "Apa manfaat yang akan engkau dapatkan dari mengetahui namaku dan siapa sesungguhnya aku?"
Sang sahabat berkata, "Aku ingin mendoakan dirimu agar mendapatkan pahala dari Allah swt., sebagai balasan atas perbuatan baikmu.
Lelaki itu menjawab, "aku tidak ingin engkau mendoakanku juga mengetahu nama serta maksud dari perbuatan baikku terhadapmu."
Abdullah berkata, "Demi Allah, janganlah engkau menemani diriku lagi, hingga aku mengetahui siapa dirimu yang sesungguhnya dan mengapa engkau menolongku tanpa mau menerima imbalan dariku?"

Lelaki itupun menjawab, "Karena engkau telah bersumpah dengan naa Allah, maka aku pun akan memberitahukan kepadamu. Ketahuilah, bahwa aku adalah iblis."

Abdullah berkata, "Bagaimana bisa engkau membantuku pergi ke masjid, padahal engkau biasa melarang manusia untuk melaksanakan sholat?"

Iblis berkata, "Adakah engkau ingat pada hari dimana engkau saat itu keluar rumah untuk menuju masjid dan terjatuh di tengah jalan, lalu darah mengalir di kepala serta membasahi wajahmu?"
          Sahabat tersebut menjawab, "Ya, aku mengingatnya."
          Si iblis berkata, "Pada saat kejadian itu, saya mendengar para malaikat berkata, Bahwa Allah telah mengampuni setengah dari dosamu, akibat engkau terjatuh. Maka aku takut, Allah akan mengampuni yang setengah lagi dari dosamu yang lain apabila engkau terjatuh untuk yang kedua kalinya. Oleh karena itulah, maka aku mau menuntun langkahmu dan membantumu saat pergi serta pulang dari masjid, agar tidak terjatuh lagi."   Lalu dia pun pergi tanpa menoleh lagi.




Jumat, 04 Maret 2011

Mari Membiasakan Diri

Ibnu Mas'ud berkata: setan orang mukmin bertemu dengan setan orang kafir. Ternya setan orang mukmin lebih kurus dan setang orang kafir gemuk. Temannya bertanya, "apa yang terjadi denganmu'?.  dia menjawab, 'Aku tidak pernah mendapatkan apapun. Jika dia masuk rumah, dia menyebut nama Allah. Jika makan dia menyebut nama Allah, dan jika dia minum dia menyebut nama Allah.' Temannya berkata,' Berbeda dengan aku. Aku makan bersamanya dan aku minum bersamanya'.
Dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas Radiallohu'anhuma: Rasulullah saw bersabda, "Iblis bertanya, 'Tuhanku, semua makhluk-Mu telah Engkau terangkan rezekinya, dimanakah rezekiku?'  Tuhannya menjawab "di makanan yang tidak disebut nama Allah" (HR adh-Dhiya dalam al-Mukhtarah)
Dari Jabir r.a. Rasulullah saw bersabda, " Apabila salah seorang dari kmu masuk rumahnya menyebut nama Allah dan membaca basmallah ketika masuk dan ketika makan maka setan berkata 'Tidak ada tempat dan tidak ada makanan untuk jalian,'  Dan jika dia masuk namun tidak menyebut nama Allah ketika masuk setan berkata,' kalian mempunyai tempat. Dan jika dia tidak menyebut nama Allah ketika makan dia berkata,' kalian mendapatkan tempat dan makanan"
Nabaisyah pembantu Rasulullah saw mengatakan, Rasulullah saw menyampaikan," Siapa yang makan memakai piring, kemudian tidak meninggalkan sisa, niscaya piring itu akan memintakan ampun baginya. " (HR. ad-Darimi)

Senin, 02 Agustus 2010

Nikmat dan Dosa

SEORANG HAMBA yang bernama manusia jika diberikan nikmat kesehatan, kedudukan, dan harta dari Tuhan, mereka menjadikan itu semua sebagai jalan untuk melakukan perbuatan maksiat. Jika diuji dengan kesusahan, sakit, dan lain-lain, mereka berburuk sangka terhadap ketentuan tuhan. Mereka mengeluh, tidak mampu mensyukuri nikmat, dan tidak bersabar terhadap ujian-Nya. Kesehatan yang ada pada diri seorang hamba dia pergunakan untuk bermaksiat. Sedangkan ujian atau malapetaka membuatnya kufur nikmat dan mengeluh kepada Tuhan. Ketika Tuhan membukakan jalan, dia tidak mau membukanya, malah memilih jalan nafsu dan setan. Ketika diutus seorang nabi dan rasul, dia malah mengingkari dan lebih memilih untuk mengatakan, "aku tidak akan menjual kenikmatan dunia yang tampak dengan kenikmatan akhirat yang belum jelas. Aku tidak akan meninggalkan dunia yang aku lihat dengan mata kepala dengan sesuatu yang hanya bisa didengar."
Uraian di atas merupakan fenomena kenyataan hidup manusia yang sering membalut hidup mereka dengan dosa dan maksiat. Selayaknya orang-orang yang telah memenuhi hidup mereka dengan dosa agar segera bertobat. Rahmat Allah sangat luas dan terbuka bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya. Allah swt berfirman dalam sebuah hadits Qudsi,

"Jika kamu datang kepada-Ku, pasti Aku menerimamu. Jika kalian datang pada malam hari, Aku pun akan menerimamu. Jika datang pada siang hari, Aku juga akan menyambutmu. Jika kamu mendekat satu jengkal tangan saja, maka Aku akan mendekatimu satu hasta (dari siku sampai jari-jari tangan). Jika kamu mendekati-Ku dengan satu hasta saja, maka Aku akan mendekat kepadamu satu depa. Jika kamu menemui-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan menemuimu dengan berlari. Sekiranya kamu kembali bertobat kepadaku dengan membawa segudang dosa selain syirik, niscaya Aku akan datang dengan membawa segudang pahala ampunan untukmu. Kalau dosa-dosamu mencapai puncak gunung atau ke awan sekalipun, kemudian kamu kembali kepada-Ku dengan memohon ampunan, maka pasti Aku akan mengampunimu. Tidak ada yang lebih pemurah dari-Ku. Aku Mahakaya dari pada yang lain.
Orang yang meninggalkan sesuatu karena Aku, maka Aku akan memberikannya lebih dari yang ia butuhkan. Siapa yang ingin ridha-Ku, maka aku akan memenuhi lebih dari yang ia mau. Orang yang melakukan sesuatu atas dasar daya dan kekuatan-Ku, maka besi sekalipun akan Aku lunakkan untuknya. Ahli zikir dan ahli syukur adalah kekasih-Ku. Orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku, tidak akan aku putuskan dari rahmat-Ku. Jika mereka kembali kepada-Ku, maka Aku adalah kekasih mereka. Aku sungguh mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang bersuci. Jika mereka belum bertobat, maka Aku adalah dokter mereka. Aku memberi ujian kepada mereka, agar mereka dapat membersihkan aib dan kesalahan mereka. Orang yang lebih mendahulukan Aku daripada yang lain, maka Aku akan mendahulukannya dari yang lain.
Satu kebaikan dari-Ku bernilai sepuluh bahkan bisa mencapai tujuh ratus kali lipat dan seterusnya. Satu kejahatan dari-Ku bernilai satu. Jika hamba-Ku menyesal dan meminta ampun, maka Aku akan mengampuninya. Aku sangat menyambut amal saleh walau sedikit. Aku akan memberikan ampunan kepada orang yang mau kembali kepada-Ku. Rahmat-Ku lebih Aku dahulukan dari pada murka-Ku. Kasih sayang-Ku jauh lebih Aku inginkan dari siksa-Ku. Ampunan dari-Ku lebih Aku cintai dari sisaan-Ku. Aku jauh lebih sayang kepada hamba-hamba-Ku daripada seorang ibu yang mencintai anaknya."        
(Majdi Muhammad Asy-Syahawi).
Tapi mesti diingat saudaraku jangan sampai firman Allah swt. tersebut membuat kita semakin sering meremehkan dosa-dosa sehingga sering mengulang-ulangnya di kemudian hari. Rahmat Allah swt. memang sungguh luas tetapi bukan untuk dipermainkan.  dalam hadits dhaif dari Ibnu abbas dengan status marfu' kepada Rasulullah saw., beliau berkata,
"Orang yang bertobat dari dosa sama seperti orang yang tidak mempunyai dosa. Dan orang yang beristighfar dari dosa, namun masih mengerjakan perbuatan dosa, orang itu sama saja mengejek Tuhan."

Selasa, 01 Juni 2010

Bimbang dan Sedih

Berbaik Sangka Terhadap Bimbang dan Sedih

Dalil Sunah
Nabi saw bersabda " tidak seorang muslim pun yang ditimpa kesulitan namun tidak mersa sakit, tidak bimbang, tidak sedih, dan tidak pula galau hingga duri yang menyakitinya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan dosa dan kesalahannya."   (HR Bukhari-Muslim)
Abu sa'id bin Khudri meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, "Tidak sesuatu pun yang menimpa atau menyakiti seorang mukmin berupa kesulitan dan penyakit, bahkan kebimbangan, melainkan dengan demikian Allah akan menghapuskan dosa dan kesalahannya." (HR Ahmad)
'Aisyah meriwayatkan, rasulullah saw bersabda, "Apabila dosa dan kesalahan seorang hamba telah menumpuk, sementara dia tidak mempunyai apapun untuk menghapuskannya, maka Allah akan mengujinya dengan kesedihan agar kesedihan itu menghapuskan dosa dan kesalahannya." (HR at-Tirmidzi)

Definisi Sedih Menurut Bahasa
Ia berasal dari kata al-Huzn dan al-hamm, sedangkan bentuk plurnya adalah ahzan dan hazin, maka orang yang sedih itu disebut Haznan dan Mihzan. Seorang menjadi sedih karena sesuatu. Ahzanahu berarti menjadikannya sedih. 'Amul-Huzn adalah tahun di mana Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia. Dan Tahazzana 'Alaihi maksudnya adalah sakit.

Perbedaan antara Al-Hamm (Bimbang) dan Al-Huzn (Sedih)
Imam as- Suyuthi berkata bahwa Nabi saw pernah berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perasaan bimbang dan sedih."
Al-Khaththabi berkata, "Kebanyakan manusia tidak mampu membedakan antara al-Hamm (bimbang) dan al-Huzn (sedih), tetapi yang sedih itu biasanya terjadi pada sesuatu yang sudah terjadi, sedangkan bimbang pada apa yang belum terjadi.

Rasulullah saw Berlindung dari Sedih dan Bimbang
'Amru bin Abi 'Amru maula al-Muthallib bin 'Abdullah bin Hanthab menceritakan bahwa dia mendebgar Anas bin Malik berkata, "Rasulullah saw berkata kepada Abu Thalhah, 'Carikanlah kami pembantu dari pembantu-pembantu kalian," maka aku (Anas) pergi bersama Abu Thalhah berboncengan. Aku sudah membantu Rasulullah saw setiap kali dia turun, maka aku mendengar dia sering berdoa dengan mengucapkan, 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bimbang dan sedih, lemah, dan pemalas, kikir dan dungu (penakut), dililit hutang dan dikalahkan."
Aku selalu membantunya hingga kami kembali dari Khaibar dan dia membawa Shafiyyah binti Huyay dia berjalan dan mendahuluinya, aku melihat dia memberinya pakaian kemudian memboncengnya, hingga kami sampai ke Shahba".  Rasulullah membuatkan makanan dan menyimpannya pada suatu tempat, kemudian dia menyuruhku untuk memanggil manusia, maka akupun memanggil laki-laki yang ada. Mereka pun makan, dari sanalah Rasulullah mulai hidup bersama (menikah) dengan Shafiyyah, kemudian dia kembali hingga dia sudah melihat Uhud dengan jelas, seraya berkata, 'Gunung ini mencintai kita dan kita pun mencintainya," ketika akan memasuki kota Madinah dia berdoa, Ya Allah sesungguhnya aku telah memuliakan apa yang ada di antara dua gunungnya (Madinah sebagai tanah haram) sebagaimana Ibrahim memuliakan Mekah. Ya Allah, berkahilah penduduknya dan berkahilah takaran dan timbangan mereka."      (HR Bukhari)
Anas bin Malik menceritakan, dia berkata, " Aku sering mendengar Nabi saw berdoa dengan doa0doa berikut ini  "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bimbang dan sedih, lemah dan pemalas, kikir dan dungu (penakut), dililit hutang, dan dikalahkan atau dipaksa." (HR at-Tirmidzi)
Anas meriwayatkan dari Nabi saw "Bahwa Nabi berlindung dari delapan perkara; bimbang dan sedih, lemah dan pemalas, dungu (penakut) dan kikie serta dililit hutang dan dipaksa."  (Musnad ath-Thayalisi)
Pertanyaan yang timbul sekarang adalah "kalau bimbang dan sedih merupakan penghapus dosa, kenapa Rasulullah saw berlindung dari keduanya?"  Jawabannya adalah boleh jadi Rasulullah berlindung dari sedih dan bimbang yang akan menggiring seorang seorang muslim keluar untuk melakukan maksiat kepada Allah dan menantang qada dan qadar-Nya.
Sedangkan sedih yang akan menghapuskan dosa kita kenal melalui hadis Rasulullah saw ketika putra Ibrahim meninggal dunia, dia bersabda ' Sesungguhnya mata ini akan mengeluarkan airnya (menangis) dan hati ini akan sedih, dan kita tidak akan mengatakan kecuali apa-apa yang akan diridhai oleh Allah Tuhan kita. DEmi Allah, sesungguhnya kami benar-benar sedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim." (HR Ahmad)
Dan boleh jadi Rasulullah saw berlindung dari kesedihan yang diderita oleh penghuni neraka.
'Abdullah bin 'Umar menceritakan, Rasulullah saw bersabda, "Ketika penduduk surga telah memasuki surga dan penghuni neraka telah memasuki neraka, maka mati (bentuk seperti makhluk) akan didatangkan dan diletakkan antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Setelah itu terdengar panggilan, 'Wahai penduduk surga, tidak ada lagi kematian, dan wahai penghuni neraka, tidak ada lagi kematian." Maka  penduduk surga bertambah gembira, sementara penghuni neraka semakin bertambah kesedihan mereka." (HR Bukhari-Muslim)
Ibnu 'Abbas berkata, "Yang dimaksud dengan firman Allah Segala puji bagi Allah yang telah membuang kesedihan dari kami   adalah kesedihan penghuni neraka." (HR al-Hakim)
Sesungguhnya di neraka Jahannam terdapat satu lembah yang diberi nama Jubbul-Huzn (lembah kesedihan).
Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah saw bersabda, "Berlindunglah kepada Allah dari Jubbul-Huzn."
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu Jubbul-Huzn?"
Beliau bersabda, "Itu adalah sebuah lembah dalam neraka Jahannam, bahkan neraka Jahannam pun berlindung darinya seratus kali dalam sehari."
Ada yang bertanya kepada Rasulullah, "Siapa yang akan masuk kedalam lembah itu wahai Rasulullah?"
Beliau bersabda, "para Qari (ahli membaca al-Quran) dan orang-orang yang beramal karena pamer, ingin dilihat oleh orang lain." (Hr at-Tirmidzi)

Anjuran Rasulullah saw tentang Doa Pengusir Kebimbangan dan Kesedihan
Ibnu Mas'ud meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, "Tidak sekalipun hamba yang membaca doa berikut ini bila dia ditimpa kebimbangan atau perasaan sedih,

Allahumma inni 'abdukabnu' abdikabnu amatika, naashyyatii biyadika, maa dhimfiyya hukmuka, 'adlumfiyya qadha uka, as aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahu fii kitaa bika, au 'allamtahu ahadan min kholqika, awis ta'  tsar tabihi fii 'ilmi ghaibi 'indaka,  antaj'alilqur ana robii  'aqalbii, wanuura basharii, wajalaa akhuznii,  wadzahaabahammii  (huruf dobel dibaca panjang)
Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-hamba-Mu, anak budak-Mu, kehidupanku ada dalam genggaman-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, hukum-Mu sangat adil terhadapku, aku meminta kepada Engkau dengan segala nama di mana Engkau telah memberi nama Zat-Mu dengan nama itu, atau Engkau turunkan ia dalm kitab-Mu atau Engkau ajarkan ia kepada salah seorang makhluk-Mu, atau Engkau simpan ia dalam ilmi ghaib di sisi-Mu, jadikanlah al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, sebagai cahaya penglihatanku dan sebagai pengusir rasa sedihku dan pembuang rasa bimbangku,     Melainkan Allah akan mengusir kebimbangannya dan menggantikannya dengan kegembiraan."
Mereka bertanya, "Rasulullah, sepatutnyalah kami mempelajari doa ini,"
Rasulullah bersabda, "Ya, bagi orang-orang yang mendengar sangat patut untuk mempelajarinya."  (HR Inu Hibban).                                        (oleh  M. 'Ali 'Utsman Ali Mujahid.  Maghfirah Pustaka).

Minggu, 30 Mei 2010

Tanda-tanda Hati yang Sehat dan yang Sakit

Definisi Penyakit Hati

Setiap indra badan diciptakan untuk fungsi tertentu. Kesempurnaanya terletak pada kemampuannya menjalankan fungsi tujuan penciptaannya. hal itu berarti penyakitnya adalah apabila tidak mampu menjalankan peran yang telah dicipta untuknya atau mampu melakukannya, tetapi dengan banyak kekurangan.
Penyakit tangan, bila tidak dapat memegang. Penyakit mata, bila tidak dapat melihat. Penyakit lisan bila tidak mampu berbicara. Penyakit badan, bila tidak dapat bergerak secara alami dan lemah. Adapun penyakit hati adalah apabila tidak mampu memenuhi tujuan penciptaanya. yaitu untuk mengenal Allah, mencintai-Nya, merindukan pertemuan dengan-Nya, bertaubat kepada-Nya, dan mampu mengalahkan hawa nafsunya.
Bila seorang hamba mengetahui segalanya dan tidak mengenal Tuhannya, seakan-akan dirinya tidak mengetahui apa-apa, meski mendapatkan seluruh kesenangan dan kemewahan dunia. Orang seperti itu, yang tidak memperoleh kasih sayang Tuhannya, tidak merindukan-Nya, dan tidak bercengkrama dengan-Nya, seperti tidak memperoleh kenikmatan apapun. Bahkan sebaliknya, bila hati kosong dari semua itu, semua kesenangan dan kemewahan tersebut pasti akan berubah menjadi  azab baginya. Dia akan tersisa dari dua sisi dengan cara yang sama ia dapatkan kenikmatan semu.
Sisi pertama, penyakit hati akan membuat dirinya terhalang dari segala pencapaian duniawi, meski nafsunya bergantung kuat kepadanya. Sisi kedua, ia kehilangan sesuatu yang lebih baik, lebih bermanfaat. dan lebih abadi, di mana itu semua tidak ia dapatkan.
Alangkah malangnya orang yang seperti itu karena nikmat yang sudah ada digenggamnya lepas, sedangkan nikmat yang lebih besar lagi tidak dapat diraihnya.
Siapa saja yang mengenal Allah swt pasti akan mencintai-Nya, ikhlas beribadah kepada-Nya, dan sama sekali tidak terpengaruh oleh segala keindahan yang lainnya. siapa yang lebih mengutamakan yang selain Allah swt berarti hatinya sakit. sama halnya dengan perut, bila terbiasa menampung makanan yang kotor-kotor, maka berpengaruh kepada yang bersih-bersih. akhirnya, nafsu kepada makanan yang bersih menjadi hilang digantikan oleh keserakahan kepada yang kotor.

Mendeteksi Penyakit Hati

Terkadang hati diserang penyakit dan sakitnya semakin bertambah parah, tetapi tidak disadari oleh empunya karena kesibukab dan keengganannya mengetahui kesehatan hati dan sebab-sebabnya.. bahkan terkadang hati telah mati dan tidak dirasakan oleh si empunya. tanda-tanda hati yang seperti itu adalah keburukan yang melukainya tidak membuatnya sakit. Kebodohannya akan kebenaran dan odeologinya yang batil tidak membuatnya merasa sakit.
 Karena sesungguhnya bila di dalam hati terdapat kehidupan, pasti akan sakit bila keburukan menimpanya. Mengaduh bila kebodohannya akan kebenaran menjangkitinya, sesuai kadar kehidupannya.
Si mayit tidak merasakan luka yang menggoresnya.
Harus Sabar Meminum Obat
Terkadang seseorang merasa hatinya sakit, tetapi berat menanggung pahitnya obat dan bersabar. Ia lebih memilih penyakitnya daripada pahitnya obat. Karena obatnya terdapat pada penolakannya terhadap hasrat keinginannya. Yang demikian itu lebih berat bagi nafsunya. Padahal, untuk mengobati penyakit hati tidak ada yang lebih bermanfaat daripada memerangi keinginan nafsunya.
Terkadang bertekad untuk sabar, kemudian lama-kelamaan tekadnya menjadi kendur dan tidak berlanjut karena lemah ilmunya, kesadarannya, dan kesabarannya. Keadaanya persis seperti orang yang memasuki jalan menakutkan yang akan membawanya ke tujuan yang aman. ia sadar bahwa bila saja ia besabar menempuhnya, maka ketakutan akan berlalu dan rasa aman akan tiba. Pada kondisi seperti itu ia butuh kekuatan sabar dan keyakinan yang aka membawanya ke jalan keselamatan. Manakala kesabaran dan keyakinan melemah, ia akan berbalik arah, enggan menanggung beratnya perjalanan, terlebih bila tiada kawan yang menyertainya dan takut dengan kesendiriannya. Saat itu ia akan bertanya, kemana perginya orang-orang? saya mempunyai contoh terhadap orang seperti mereka. Seperti itulah keadaan mayoritas umat manusia dan itu akan membawa kebinasaan mereka.

Tanda-tanda Penyakit Hati
Yang dimaksud tanda-tanda penyakit hati adalah, berpaling dari " makanan yang bergizi" kepada "makanan yang bebahaya". Lebih memilih obat yang lebih berbahaya dari pada obat yang bermanfaat.
Di sini ada empat kata kunci, makanan yang bergizi (bermanfaat), obat yang menyembuhkan, makanan yang berbahaya, dan obat yang merusa.

Tanda-tanda Kesehatan Hati
hati yang sehat adalah apabila makanan yang bergizi mengalahkan makanan yang berbahaya, sedangkan hati yang sakit adalah kebalikannya. makanan yang paling bermanfaat bagi hati adalah iman. sedangkan obatnya adalah al-Qur'an. Keduanya mengandung gizi dan obat.
Juga termasuk dari tanda-tanda kesehatannya ialah meninggalkan (kesenangan) dunia hingga berlabuh akhirat dan bertyempat di sana seakan-akan dirinya bagian dari penduduk  akhirat. Dijadikan dunia ini sebagai tempat asing. ia mengambil kebutuhannya seperlunya saja, kemudia kembali ke tempat tanah airnya. Seperti sabda Rasulullah saw kepada Abdullah bin Umar, " Hiduplah di dunia seakan engkau orang asing atau penyeberang jalan. Dan anggaplah dirimu sebagai penghuni kubur. "  (HR Bukhari)

Hiduplah engkau di surga 'Adn
Karena itulah istanamu
Akan tetapi musuh menawan kita
Akankah kita kembali ke negeri kita dengan selamat? 

Imam Ali ra berkata, "Sesungguhnya dunia telah berjalan mundur dan akhirat semakin dekat. Keduanya mempunyai penghuni masing-masing. Jadilah penghuni akhirat dan janganlah kalian menjadi pemuja dunia. Sesungguhnya dunia tempat beramal bukan hisab (perhitungan ), sedangkan esok (akhirat) tempat hisab bukan amal (berbuat)."
Manakala hati sehat dari penyakitnya, ia akan berangkat menuju akhirat dan semakin mendekatinya sehingga menjadi bagian dari penghuini akhirat. Manakala hati sakit, ia akan bersemayam di dalam dunia sehingga menjadi penghuni dunia.
Di antara tanda-tanda kesehatan hati adalah akan senantiasa memperingatkan pemiliknya hingga kembali kepada Allah swt, bergantung kepada-Nya bagaikan orang yang dimabuk cinta merindukan kekasihnya.. Tiada kehidupan baginya, tiada pula kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan, melainkan dengan keridhaan-Nya, kedekatann-Nya, dan kasih sayang-Nya. Ia merasa tenang dan damai bernaung di bawah-Nya, kepada-Nya ia bertawakal, dengan-Nya ia percaya, dan karena-Nya ia takut.
zikir menjadi makanannya dan kesukaannya, rindu pada-Nya sebagai kehidupan, kenikmatan, dan kebahagiaannya. Berpaling kepada selain-Nya dan bergantung dengan selain-Nya adalah penyakitnya dan kembali kepada-Nya adalah obatnya.
Bila dapat menggapai tuhannya, ia akan merasa tenang dengannya. Keguncangan dan keraguan akan hilang. Lubang hatipun tertutup. Sesungguhnya di dalam hati terdapat lubang yang hanya dapat ditambal oleh Allah swt saja. Twerdapat penyakita yang tidak dapat disembuhkan, kecuali dengan tulus ikhlas hanya menyembah-Nya saja. 
hati selalu mengingatkan pemiliknya sehingga merasa tenang kembali kepada tuhan sesembahannya. Pada saat itu, muncul semangat hidup, merasakan nikmatnya, dan tercipta kehidupan baru untuknya selai kehidupan orang-orang yang lalai, yang jauh dari perintah ini, yang karenanya makhluk dicipta, surga dan neraka dibuat. Untuknya Rasul dikirim dan kitrab suci diturunkan. Bila saja, umpamanya, tidak ada balasan selain wujud dirinya, yang demikian itru sudah cukup sebagai balasan baginya.
Sebagian kaum 'Urafa berkata, "Semiskin-miskinnya penduduk dunia adalah mereka yang meninggalkan dunia tanpa pernah merasakan makanannya yang paling lezat." Apa itu makanan yang paling lezat di dunia? makanan yang paling lezat di dunia adalah mahabatullah (mencintai Allah), becengkrama dengan-Nya, merindukan pertemuan-Nya, menikmati zikir-Nya, dan taat kepada-Nya.
Sebagaian lain berkata, "Sesungguhnya akan menghampiriku suatu masa, dimana akan aku akan berkata, "Bila saja penduduk  surga seperti ini, niscaya mereka berada dalam kehidupan yang baik."
Sebagian lain berkata, " Demi Allah, dunia (kehidupan) tidak akan baik, kecuali dengan mencintai-Nya dan menaati-Nya. Tidak pula surga, kecuali dengan memandang-Nya dan menyaksikan-Nya."
Abu Hasan al-warraq berkata, " Hidupnya hati dengan selalu mengingat Yang Mahahidup lagi kekal abadi."
Oleh karena itu al-Faut (lepas dari Allah) bagi kaum 'Urafa, lebih berat bagi mereka daripada kematian. Karena al-Faut berarti keterasingannya dari al-Haq (Allah), sedangkan kematian hanya terputus dari Makhluk. Alangkah jauhnya perbedaan keduannya.
Yahya bin Mu'adz berkata, " Barang siapa yang senang mengabdi kepada Allah swt segala sesuatu senang untuk mengabdi kepadanya. Siapa yang matanya senang dengan Allah, semua mata akan senang memandangnya."
Diantara tanda-tanda hati yang sehat adalah tidak bosan mengingat Tuhannya, selalu mengabdi kepada Tuhannya, tidak bercengkrama dengan selain-Nya, kecuali dengan orang yang menunjukkan jalan kepada-Nya, dan selalu mengingatkannya.
Termasuk tanda-tanda yang lain adalah bila kehilangan Allah akan terasa sakit baginya melebihi sakitnya orang rakus yang kehilangan hartanya.. Berhasrta untuk selalu mengabdi seperti orang yang lapar merindukan makanan dan minuman. Bila waktu shalat datang, nafsunya kepada dunia hilang dan bergegas untuk segera keluar darinya karena di situlah ia temukan kebahagiaan dan kenikmatannya. Keinginannya hanya satu, untuk selalu bersama Allah swt. Perhatiannya untuk selalu memperbaiki perbuatannya lebih besar dari pada perbuatan itu sendiri. Itulah tanda-tanda hati yang sehat dan hidup. (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Maghfirah Pustaka).


Rabu, 21 April 2010

Kartini

Seandainya Kartini Berjilbab

Pemandangan umum yang terlihat pada bulan April, dimanapun, di Tanah Air ini, adalah perayaan hari Kartini. Sekolah-sekolah mengadakan aneka lomba busana daerah, di perkantoran para karyawannya tak ketinggalan memakai busana daerah, sampi-sampai ada semacam kewajiban bagi para penyiar televisi untuk menggunakan busana daerah pada tanggal 21 bulan itu. Pakaian kebaya jawa rata-rata mendomunasi busana daerah pada perayaan itu agar mirip dengan penampilan Kartini, demikian alasan yang dikemukakan.
Kartini adalah seorang gadis Jawa yang fenomenal, yang sontak menjadi terkenal di seantero Nusantara gara-gara perlawanannya terhadap pemasungan hak-hak wanita yang dialaminya sebagai gadis Jawa. Semuanya diungkapkan dalam surat-menyurat yang dikirimkannya kepada temannya, seorang gadis Belanda. "Perlawanan"-nya ini kelak dijadikan semacam inspirasi bagai para wanita Indonesia untuk meneriakkan selogan emansipasi. Tetapi sayangnya, sejarah mencatat, seorang kartini belum bisa berbuat banyak kepada kaumnya pada saat itu, kecuali hanya bisa mengeluh dan mengadu kepada teman korespondensinya yang nun jah di Belanda saat itu. Sebagai gadis jawa, dia tetap tak bisa mengelak ketika harus dimadu oleh sang Raja, yang bukan merupakan idaman hatinya.
Sebagai sebuah simbol perjuangan, kita dapat menerima apa yang telah disuarakan oleh seorang kartini. Tetapisayangnya, penghargaan terhadap apa yang diperjuangkan beliau agaknya terlalu dibesar-besarkan karena sesungguhnya masih banyak "kartini-Kartini" lain yang lebih fenomenal perjuangannya ketimbang kartini, tetapi belum mendapatkan penghargaan yang lebih banyak daripada beliau. Sebut saja, perjuangan Dewi Sartika di Pasundan, lalu Tjut nYak Dien di Tanah Rencong yang lebih bewrnuansa agamis.
Tanpa bermaksud mengecilkan arti perjuangan beliau, agaknya kita perlu mengevaluasi kembali perayaan-perayaan yang dianggap lazim oleh anak-anak kita, khususnya yang bersekolah di sekolah-sekolah Islam. Masih banyak kita lihat sekolah-sekolah Islam merayakan Hari Kartini dengan menampilkan siswi-siswinya berbusana ala Kartini, yang notabene memakai kebaya Jawa yang super ketat dan memakai sanggul, plus dandanan yang menor. agaknya kita perlu mereposisi kembali perayaan-perayaan yang demikian. Penghargaan atas suatu perjuangan tentu tak harus dilakukan dengan cara seperti itu. Mengapresiasi sebuah pemikiran cukuplah kiranya dengan tetap menggunakan identitas anak-anak kita sebagai seorang Muslimah, tanpa harus meninggalkan jilbabnya.
Jilbab bagi seorang muslimah bukan sebuah simbol. Artinya, jolbab bukanlah sesuatu yang memilii fungsi sebagai tanda agama dari orang yang memakainya. Jilbab tidak seperti itu. Berbeda halnya dengan kalung salib yang dikenakan seseorang menjadi simbol bahwa dia adalah seorang Nasrani. Lebih daripada itu, seorang muslimah diperintahkan oleh Allah Swt. untuk menutup aurat tubuhnya. Jilbab sendiri biasanya disebut kerudung, jilbab, dan selendang yang diletakkan di atas kepala.
Allah Swt. berfirman,

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung di dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang ang beriman supaya kamu beruntung, (QS An-Nur [24]:31).

Al-Jaib dalam ayat di atas bermakna ujung pakaian di bagian dada yang terbuka. Maksudnya, hendaknya para wanita Muslimah menutupkan kerudung ke kepala, dada bagian atas, dan leher mereka.
Kandungan ayat di atas merupakan perintah Al-Qur'an dan bukan sesuatu yang dihasilkan oleh ijtihad para fukaha. Itu adalah perintah langsung dariAllah Swt. "...Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka..." (QS Al-Ahzab [33]: 59).
Karena itu, Tanpa bermaksud mengecilkan arti perjuangan dari seorang Kartini, Jadikanlah momentum Hari Kartini sebagai hari ketika kita sama-sama mengevaluasi kembali makna "emansipasi" yang telah beliau usung dengan menggunakan norma-norma yang Islami. Bukankah yang terpenting dari perjuangan beliau adalah "semangat atau spiritnya" bukannya "penampilannya". Karena itu, mengapa kita masih terjebak dengan perayaan-perayaan yang bersifat seremonial?.
Semangat perjuangan hak-hak wanita yang diprakarsai oleh seorang Kartini bukanla sesuatu yang baru. Sebab, Islam sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita. Salah satu bentuk kemuliaan  seorang wanita adalah dengan menutup auratnya, melalui jilbab. Inilah salah satu bentuk kemuliaan seorang wanita. Perjuangan beliau melawan kesemena-menaan seorang pria pada zaman itu sesungguhnya adalah  sudah dijawab oleh Islam. Islam menjunjung tinggi martabat seorang ibu, memberi tempat yang layak bagi seorang istri yang salehah, tentu dengan tak membiarkan auratnya terbuka. Ah, andai saja Kartini berjilbab. (oleh Asfa Davy Bya).