Pengikut

Rabu, 30 Maret 2011

Zikir yang Bernilai Lebih Banyak

     Ibnu 'Abbas menceritakan dari Juwairiyyah bahwa Nabi saw. keluar meninggalkannya untuk menunaikan sholat subuh, sementara dia (Juwairiyyah) tetap pada tempat sholatnya. Kemudian Rasulullah kembali pulang setelah melakukan sholat dhuha, dan Juwairiyyah masih duduk di tempat sholatnya.    Rasulullah saw. bertanya, "Apakah kamu masih duduk seperti aku tinggalkan tadi?"
       "Ya."
     Nabi saw bersabda," Aku benar-benar sudah membaca empat macam kalimat sebanyak tiga kali, jika ditimbang dengan apa yang kamu baca semenjak kamu aku tinggalkan tadi, niscaya apa yang aku baca jauh lebih berat, yaitu;

"subhaanalaahi wa bihamdihi  'Adadakholkihi waridhoo nafsihi wazinata 'arsyihi wamidadaa kalimaatihi"

Maha suci allah dan dengan memuji-Nya, sbanyak makhluk-Nya, sebanyak keridhoan-Nya kepada diri-Nya, seberat Arsy-Nya dan sebanyak kalimat-kalimat-Nya.  (HR Muslim)

Rabu, 16 Maret 2011

Bagian untuk Allah dan Bagian untuk Hamba

As-Shalat

Surat al-Fatihah mempunyai beberapa nama lain. sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah Ta'ala telah menamai surat ini dengan nama "as-Shalat". Diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi dan an-Nasa-i dan lainnya, dari Abi Hurairah  ra., dari Rasulullah saw., bahwasanya beliau bersabda, "Allah Ta'ala berfirman: "Aku membagi as-Shalat (al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku  dalam dua bagian. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya lagi untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku, apa saja yang ia minta."
      Rasulullah saw. melanjutkan, "(Allah Ta'ala berfirman): bacalah oleh kalian!, Maka sang hamba membaca, (Alhamdulillahi robbil'alamin)' segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.' Allah pun berfirman, 'Hambak-Ku telah memuji-Ku.' maka sang hamba membaca, (Arrohmanirrohim) ' Alllah Mahapengasih lagi Mahapenyayang'. Allah pun berfirman: 'Hamba-Ku telah menyanjungku.' dan pada saat sang hamba membaca, (maliki yaumiddin) 'yang enguasai hari pembalasan'. Allah pun berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan Aku., Pada saat sang hamba membaca Iyyaka na'budu wa Iyyaka nas ta'in) 'Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan,' Maka Allah pun berfirman: ' Ini adalah bagian antara Aku dan Hamba-Ku. Dan bagi Hamba-Ku apa yang ia minta.'  maka ia membaca, (ihdinashshirotolmustaqim{6} Shirotolladzina an'amta 'alaihim goiril maghdhu bi'alaihim waladhdhollin) ' Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk atas mereka. Bukan (jalan) mereka yangEngkau murkai dan bukan ( pula jalan) mereka yng sesat.'    Allah pun berfirman: 'Ini semua adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.



Sabtu, 12 Maret 2011

Muslim itu Bersaudara

Anas r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda, "Setiap hamba yang datang mengunjungi saudaranya karena Allah, niscaya ada malaikat dari langit yang menyerunya, "sungguh baik dan terpuji kamu, bagimu surga. Atau Allah berfirman di kerajaan Arasy-Nya, Hambaku telah berkunjung dan memuliakan saudaranya karena Aku. Allah tidak rida memberikan pahala kepadanya kalau bukan berupa surga
(HR al-Bazzar dan Abu Ya'la)
----  "Barang siapa menjenguk orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, ada malaikat yang menyerunya, "Bagus sekali apa yang kamu lakukan, bagus sekali usahamu dan semoga kamu akan mendiami sebuah tempat di surga," (HR Ibnu Majah, at-Tirmidzi)
----- Anas menceritakan, Nabi saw bersabda," Tidaklah dua orang muslim yang bertemu, maka salah seorang di antaranya memegang tangan saudaranya (berjabatan tangan), melainkan Allah swt berhak mendengar doa mereka berdua, dan tangan mereka(yang bersalaman) belum akan lepas, hingga mereka berdua mendapatkan ampunan. (HR Ahmad)
------------"Siapa yang ingin dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menjalin silaturahmi," (HR Muttafaq Ilaihi)
_______"Rahmat Allah tidak akan diberiakan kepada orang-orang yang memutuskan tali silaturahim,"
(HR Baihaqi)

Minggu, 06 Maret 2011

Iblis Tidak Pernah Mau Rugi

Kisah Abdullah bin Ummi Maktum dengan Iblis

Abdullah bin Ummi Maktum ra. adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw. Ia seorang yang buta, dan yang menjadi sebab diturunkannya surat surat "Abasa.
Suatu ketika, Abdullah datang kepada Rasulullah saw. setelah sebelumnya ia ditinggalkan oleh orang yang menuntunnya berjalan untuk menunaikan sholat berjama'ah di masjid. Ia lalu menemui Rasulullah, karena ingin meminta izin kepada beliau untuk tidak hadir di dalam sholat shubuh bersama beliau.
Maka Rasulullah saw. bertanya, " Apakah engkau mendengarkan suara azan?".  Abdullah pun menjawab, "Ya, aku mendengarnya.".  Lalu Beliau pun berkata, "Kalau begitu aku tidak melihat adanya rukhsah (keringanan) pada dirimu untuk tidak berjamaah di masjid."


Pada waktu shubuh berikutnya, Abdullah bin Ummi Maktum hendak pergi ke masjid untuk menunaikan sholat berjamaah. Tiba-tiba di perjalanan kakinya tersandung batu dan ia terjatuh hingga kepalanya luka. Darah segarpun mengalir di wajahnya.
Ia pun bangkit dan mengusap darah yang bercucuran pada wajahnya, agar bisa melanjutkan perjalanan ke masjid. Tiba-tiba ia merasa dihampiri oleh seorang lelaki yang tidak ia kenal sebelumnya dan langsung menyapanya dengan bertanya, "Hendak kemanakah engkau, wahai paman?".   Abdullah bin Ummi Maktum menjawab, "Aku hendak pergi ke masjid."
Sang lelaki berkata '"aku akan mengantarmu pergi ke masjid dan sekaligus mengantarmu pulang ke rumah." Lalu lelaki itupun memegang erat tangan sang sahabat dan menuntunnya pergi ke masjid, begitu pun ketika pulang. Begitulah peristiwa itu berlangsung beberapa hari.
Abdullah merasa senang dengan bantuan si lelaki itu dan ia pun menanyakan nama dan ikhwal lelaki tersebut

Lelaki itu berkata, "Apa manfaat yang akan engkau dapatkan dari mengetahui namaku dan siapa sesungguhnya aku?"
Sang sahabat berkata, "Aku ingin mendoakan dirimu agar mendapatkan pahala dari Allah swt., sebagai balasan atas perbuatan baikmu.
Lelaki itu menjawab, "aku tidak ingin engkau mendoakanku juga mengetahu nama serta maksud dari perbuatan baikku terhadapmu."
Abdullah berkata, "Demi Allah, janganlah engkau menemani diriku lagi, hingga aku mengetahui siapa dirimu yang sesungguhnya dan mengapa engkau menolongku tanpa mau menerima imbalan dariku?"

Lelaki itupun menjawab, "Karena engkau telah bersumpah dengan naa Allah, maka aku pun akan memberitahukan kepadamu. Ketahuilah, bahwa aku adalah iblis."

Abdullah berkata, "Bagaimana bisa engkau membantuku pergi ke masjid, padahal engkau biasa melarang manusia untuk melaksanakan sholat?"

Iblis berkata, "Adakah engkau ingat pada hari dimana engkau saat itu keluar rumah untuk menuju masjid dan terjatuh di tengah jalan, lalu darah mengalir di kepala serta membasahi wajahmu?"
          Sahabat tersebut menjawab, "Ya, aku mengingatnya."
          Si iblis berkata, "Pada saat kejadian itu, saya mendengar para malaikat berkata, Bahwa Allah telah mengampuni setengah dari dosamu, akibat engkau terjatuh. Maka aku takut, Allah akan mengampuni yang setengah lagi dari dosamu yang lain apabila engkau terjatuh untuk yang kedua kalinya. Oleh karena itulah, maka aku mau menuntun langkahmu dan membantumu saat pergi serta pulang dari masjid, agar tidak terjatuh lagi."   Lalu dia pun pergi tanpa menoleh lagi.




Jumat, 04 Maret 2011

Mari Membiasakan Diri

Ibnu Mas'ud berkata: setan orang mukmin bertemu dengan setan orang kafir. Ternya setan orang mukmin lebih kurus dan setang orang kafir gemuk. Temannya bertanya, "apa yang terjadi denganmu'?.  dia menjawab, 'Aku tidak pernah mendapatkan apapun. Jika dia masuk rumah, dia menyebut nama Allah. Jika makan dia menyebut nama Allah, dan jika dia minum dia menyebut nama Allah.' Temannya berkata,' Berbeda dengan aku. Aku makan bersamanya dan aku minum bersamanya'.
Dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas Radiallohu'anhuma: Rasulullah saw bersabda, "Iblis bertanya, 'Tuhanku, semua makhluk-Mu telah Engkau terangkan rezekinya, dimanakah rezekiku?'  Tuhannya menjawab "di makanan yang tidak disebut nama Allah" (HR adh-Dhiya dalam al-Mukhtarah)
Dari Jabir r.a. Rasulullah saw bersabda, " Apabila salah seorang dari kmu masuk rumahnya menyebut nama Allah dan membaca basmallah ketika masuk dan ketika makan maka setan berkata 'Tidak ada tempat dan tidak ada makanan untuk jalian,'  Dan jika dia masuk namun tidak menyebut nama Allah ketika masuk setan berkata,' kalian mempunyai tempat. Dan jika dia tidak menyebut nama Allah ketika makan dia berkata,' kalian mendapatkan tempat dan makanan"
Nabaisyah pembantu Rasulullah saw mengatakan, Rasulullah saw menyampaikan," Siapa yang makan memakai piring, kemudian tidak meninggalkan sisa, niscaya piring itu akan memintakan ampun baginya. " (HR. ad-Darimi)

Senin, 02 Agustus 2010

Nikmat dan Dosa

SEORANG HAMBA yang bernama manusia jika diberikan nikmat kesehatan, kedudukan, dan harta dari Tuhan, mereka menjadikan itu semua sebagai jalan untuk melakukan perbuatan maksiat. Jika diuji dengan kesusahan, sakit, dan lain-lain, mereka berburuk sangka terhadap ketentuan tuhan. Mereka mengeluh, tidak mampu mensyukuri nikmat, dan tidak bersabar terhadap ujian-Nya. Kesehatan yang ada pada diri seorang hamba dia pergunakan untuk bermaksiat. Sedangkan ujian atau malapetaka membuatnya kufur nikmat dan mengeluh kepada Tuhan. Ketika Tuhan membukakan jalan, dia tidak mau membukanya, malah memilih jalan nafsu dan setan. Ketika diutus seorang nabi dan rasul, dia malah mengingkari dan lebih memilih untuk mengatakan, "aku tidak akan menjual kenikmatan dunia yang tampak dengan kenikmatan akhirat yang belum jelas. Aku tidak akan meninggalkan dunia yang aku lihat dengan mata kepala dengan sesuatu yang hanya bisa didengar."
Uraian di atas merupakan fenomena kenyataan hidup manusia yang sering membalut hidup mereka dengan dosa dan maksiat. Selayaknya orang-orang yang telah memenuhi hidup mereka dengan dosa agar segera bertobat. Rahmat Allah sangat luas dan terbuka bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya. Allah swt berfirman dalam sebuah hadits Qudsi,

"Jika kamu datang kepada-Ku, pasti Aku menerimamu. Jika kalian datang pada malam hari, Aku pun akan menerimamu. Jika datang pada siang hari, Aku juga akan menyambutmu. Jika kamu mendekat satu jengkal tangan saja, maka Aku akan mendekatimu satu hasta (dari siku sampai jari-jari tangan). Jika kamu mendekati-Ku dengan satu hasta saja, maka Aku akan mendekat kepadamu satu depa. Jika kamu menemui-Ku dengan berjalan kaki, maka Aku akan menemuimu dengan berlari. Sekiranya kamu kembali bertobat kepadaku dengan membawa segudang dosa selain syirik, niscaya Aku akan datang dengan membawa segudang pahala ampunan untukmu. Kalau dosa-dosamu mencapai puncak gunung atau ke awan sekalipun, kemudian kamu kembali kepada-Ku dengan memohon ampunan, maka pasti Aku akan mengampunimu. Tidak ada yang lebih pemurah dari-Ku. Aku Mahakaya dari pada yang lain.
Orang yang meninggalkan sesuatu karena Aku, maka Aku akan memberikannya lebih dari yang ia butuhkan. Siapa yang ingin ridha-Ku, maka aku akan memenuhi lebih dari yang ia mau. Orang yang melakukan sesuatu atas dasar daya dan kekuatan-Ku, maka besi sekalipun akan Aku lunakkan untuknya. Ahli zikir dan ahli syukur adalah kekasih-Ku. Orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku, tidak akan aku putuskan dari rahmat-Ku. Jika mereka kembali kepada-Ku, maka Aku adalah kekasih mereka. Aku sungguh mencintai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang bersuci. Jika mereka belum bertobat, maka Aku adalah dokter mereka. Aku memberi ujian kepada mereka, agar mereka dapat membersihkan aib dan kesalahan mereka. Orang yang lebih mendahulukan Aku daripada yang lain, maka Aku akan mendahulukannya dari yang lain.
Satu kebaikan dari-Ku bernilai sepuluh bahkan bisa mencapai tujuh ratus kali lipat dan seterusnya. Satu kejahatan dari-Ku bernilai satu. Jika hamba-Ku menyesal dan meminta ampun, maka Aku akan mengampuninya. Aku sangat menyambut amal saleh walau sedikit. Aku akan memberikan ampunan kepada orang yang mau kembali kepada-Ku. Rahmat-Ku lebih Aku dahulukan dari pada murka-Ku. Kasih sayang-Ku jauh lebih Aku inginkan dari siksa-Ku. Ampunan dari-Ku lebih Aku cintai dari sisaan-Ku. Aku jauh lebih sayang kepada hamba-hamba-Ku daripada seorang ibu yang mencintai anaknya."        
(Majdi Muhammad Asy-Syahawi).
Tapi mesti diingat saudaraku jangan sampai firman Allah swt. tersebut membuat kita semakin sering meremehkan dosa-dosa sehingga sering mengulang-ulangnya di kemudian hari. Rahmat Allah swt. memang sungguh luas tetapi bukan untuk dipermainkan.  dalam hadits dhaif dari Ibnu abbas dengan status marfu' kepada Rasulullah saw., beliau berkata,
"Orang yang bertobat dari dosa sama seperti orang yang tidak mempunyai dosa. Dan orang yang beristighfar dari dosa, namun masih mengerjakan perbuatan dosa, orang itu sama saja mengejek Tuhan."

Selasa, 01 Juni 2010

Bimbang dan Sedih

Berbaik Sangka Terhadap Bimbang dan Sedih

Dalil Sunah
Nabi saw bersabda " tidak seorang muslim pun yang ditimpa kesulitan namun tidak mersa sakit, tidak bimbang, tidak sedih, dan tidak pula galau hingga duri yang menyakitinya, melainkan dengan itu Allah akan menghapuskan dosa dan kesalahannya."   (HR Bukhari-Muslim)
Abu sa'id bin Khudri meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, "Tidak sesuatu pun yang menimpa atau menyakiti seorang mukmin berupa kesulitan dan penyakit, bahkan kebimbangan, melainkan dengan demikian Allah akan menghapuskan dosa dan kesalahannya." (HR Ahmad)
'Aisyah meriwayatkan, rasulullah saw bersabda, "Apabila dosa dan kesalahan seorang hamba telah menumpuk, sementara dia tidak mempunyai apapun untuk menghapuskannya, maka Allah akan mengujinya dengan kesedihan agar kesedihan itu menghapuskan dosa dan kesalahannya." (HR at-Tirmidzi)

Definisi Sedih Menurut Bahasa
Ia berasal dari kata al-Huzn dan al-hamm, sedangkan bentuk plurnya adalah ahzan dan hazin, maka orang yang sedih itu disebut Haznan dan Mihzan. Seorang menjadi sedih karena sesuatu. Ahzanahu berarti menjadikannya sedih. 'Amul-Huzn adalah tahun di mana Khadijah dan Abu Thalib meninggal dunia. Dan Tahazzana 'Alaihi maksudnya adalah sakit.

Perbedaan antara Al-Hamm (Bimbang) dan Al-Huzn (Sedih)
Imam as- Suyuthi berkata bahwa Nabi saw pernah berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perasaan bimbang dan sedih."
Al-Khaththabi berkata, "Kebanyakan manusia tidak mampu membedakan antara al-Hamm (bimbang) dan al-Huzn (sedih), tetapi yang sedih itu biasanya terjadi pada sesuatu yang sudah terjadi, sedangkan bimbang pada apa yang belum terjadi.

Rasulullah saw Berlindung dari Sedih dan Bimbang
'Amru bin Abi 'Amru maula al-Muthallib bin 'Abdullah bin Hanthab menceritakan bahwa dia mendebgar Anas bin Malik berkata, "Rasulullah saw berkata kepada Abu Thalhah, 'Carikanlah kami pembantu dari pembantu-pembantu kalian," maka aku (Anas) pergi bersama Abu Thalhah berboncengan. Aku sudah membantu Rasulullah saw setiap kali dia turun, maka aku mendengar dia sering berdoa dengan mengucapkan, 'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bimbang dan sedih, lemah, dan pemalas, kikir dan dungu (penakut), dililit hutang dan dikalahkan."
Aku selalu membantunya hingga kami kembali dari Khaibar dan dia membawa Shafiyyah binti Huyay dia berjalan dan mendahuluinya, aku melihat dia memberinya pakaian kemudian memboncengnya, hingga kami sampai ke Shahba".  Rasulullah membuatkan makanan dan menyimpannya pada suatu tempat, kemudian dia menyuruhku untuk memanggil manusia, maka akupun memanggil laki-laki yang ada. Mereka pun makan, dari sanalah Rasulullah mulai hidup bersama (menikah) dengan Shafiyyah, kemudian dia kembali hingga dia sudah melihat Uhud dengan jelas, seraya berkata, 'Gunung ini mencintai kita dan kita pun mencintainya," ketika akan memasuki kota Madinah dia berdoa, Ya Allah sesungguhnya aku telah memuliakan apa yang ada di antara dua gunungnya (Madinah sebagai tanah haram) sebagaimana Ibrahim memuliakan Mekah. Ya Allah, berkahilah penduduknya dan berkahilah takaran dan timbangan mereka."      (HR Bukhari)
Anas bin Malik menceritakan, dia berkata, " Aku sering mendengar Nabi saw berdoa dengan doa0doa berikut ini  "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari bimbang dan sedih, lemah dan pemalas, kikir dan dungu (penakut), dililit hutang, dan dikalahkan atau dipaksa." (HR at-Tirmidzi)
Anas meriwayatkan dari Nabi saw "Bahwa Nabi berlindung dari delapan perkara; bimbang dan sedih, lemah dan pemalas, dungu (penakut) dan kikie serta dililit hutang dan dipaksa."  (Musnad ath-Thayalisi)
Pertanyaan yang timbul sekarang adalah "kalau bimbang dan sedih merupakan penghapus dosa, kenapa Rasulullah saw berlindung dari keduanya?"  Jawabannya adalah boleh jadi Rasulullah berlindung dari sedih dan bimbang yang akan menggiring seorang seorang muslim keluar untuk melakukan maksiat kepada Allah dan menantang qada dan qadar-Nya.
Sedangkan sedih yang akan menghapuskan dosa kita kenal melalui hadis Rasulullah saw ketika putra Ibrahim meninggal dunia, dia bersabda ' Sesungguhnya mata ini akan mengeluarkan airnya (menangis) dan hati ini akan sedih, dan kita tidak akan mengatakan kecuali apa-apa yang akan diridhai oleh Allah Tuhan kita. DEmi Allah, sesungguhnya kami benar-benar sedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim." (HR Ahmad)
Dan boleh jadi Rasulullah saw berlindung dari kesedihan yang diderita oleh penghuni neraka.
'Abdullah bin 'Umar menceritakan, Rasulullah saw bersabda, "Ketika penduduk surga telah memasuki surga dan penghuni neraka telah memasuki neraka, maka mati (bentuk seperti makhluk) akan didatangkan dan diletakkan antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Setelah itu terdengar panggilan, 'Wahai penduduk surga, tidak ada lagi kematian, dan wahai penghuni neraka, tidak ada lagi kematian." Maka  penduduk surga bertambah gembira, sementara penghuni neraka semakin bertambah kesedihan mereka." (HR Bukhari-Muslim)
Ibnu 'Abbas berkata, "Yang dimaksud dengan firman Allah Segala puji bagi Allah yang telah membuang kesedihan dari kami   adalah kesedihan penghuni neraka." (HR al-Hakim)
Sesungguhnya di neraka Jahannam terdapat satu lembah yang diberi nama Jubbul-Huzn (lembah kesedihan).
Abu Hurairah menceritakan, Rasulullah saw bersabda, "Berlindunglah kepada Allah dari Jubbul-Huzn."
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu Jubbul-Huzn?"
Beliau bersabda, "Itu adalah sebuah lembah dalam neraka Jahannam, bahkan neraka Jahannam pun berlindung darinya seratus kali dalam sehari."
Ada yang bertanya kepada Rasulullah, "Siapa yang akan masuk kedalam lembah itu wahai Rasulullah?"
Beliau bersabda, "para Qari (ahli membaca al-Quran) dan orang-orang yang beramal karena pamer, ingin dilihat oleh orang lain." (Hr at-Tirmidzi)

Anjuran Rasulullah saw tentang Doa Pengusir Kebimbangan dan Kesedihan
Ibnu Mas'ud meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda, "Tidak sekalipun hamba yang membaca doa berikut ini bila dia ditimpa kebimbangan atau perasaan sedih,

Allahumma inni 'abdukabnu' abdikabnu amatika, naashyyatii biyadika, maa dhimfiyya hukmuka, 'adlumfiyya qadha uka, as aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, au anzaltahu fii kitaa bika, au 'allamtahu ahadan min kholqika, awis ta'  tsar tabihi fii 'ilmi ghaibi 'indaka,  antaj'alilqur ana robii  'aqalbii, wanuura basharii, wajalaa akhuznii,  wadzahaabahammii  (huruf dobel dibaca panjang)
Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-hamba-Mu, anak budak-Mu, kehidupanku ada dalam genggaman-Mu, ketentuan-Mu berlaku pada diriku, hukum-Mu sangat adil terhadapku, aku meminta kepada Engkau dengan segala nama di mana Engkau telah memberi nama Zat-Mu dengan nama itu, atau Engkau turunkan ia dalm kitab-Mu atau Engkau ajarkan ia kepada salah seorang makhluk-Mu, atau Engkau simpan ia dalam ilmi ghaib di sisi-Mu, jadikanlah al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, sebagai cahaya penglihatanku dan sebagai pengusir rasa sedihku dan pembuang rasa bimbangku,     Melainkan Allah akan mengusir kebimbangannya dan menggantikannya dengan kegembiraan."
Mereka bertanya, "Rasulullah, sepatutnyalah kami mempelajari doa ini,"
Rasulullah bersabda, "Ya, bagi orang-orang yang mendengar sangat patut untuk mempelajarinya."  (HR Inu Hibban).                                        (oleh  M. 'Ali 'Utsman Ali Mujahid.  Maghfirah Pustaka).